Kamis, 22 November 2012

HUBUNGAN ATMAN DENGAN KELAHIRAN

HUBUNGAN ATMAN DENGAN KELAHIRAN

oleh Satriya Abolish pada 9 Januari 2011 pukul 21:20 ·
Oleh:
Made Satriya Adi Wibawa Narotama


Di dalam kitab Brahmana, yaitu kitab yang mendahulukan kitab Upanisad telah di kemukakan bahwa Atman atau nafas hidup adalah pusat segala fungsi jasmani dan rohani manusia. Atman berasal dari kata “ an “ yang artinya bernafas dengan nafas hidup. Jadi nafas itu suatu kehidupan. Di dalam pengkajian istilah Atman semakin berkembang mencakup keseluruhan aspek hidup. Roh dan peribadi roh itu. Dan sankara menjelaskan kata Atman berasal dari kata yang lain yang berarti: memperoleh, makan dan melingkup segalanya. Atman sebagai hakekat dasar dalam kehidupan manusia dianggap sebagai “ Roh “ atau “ Jiwa “ yang menyebabkan manusia itu hidup, mengalami rasa senang dan duka. Dan disadari Atman atau jiwa itu kekal, tidak pernah mati dan karena itu pengalaman suka dan duka bukan merupakan sifatnya.
Atman ini adalah merupakan percikan kecil dari paramatman (Hyang Widhi / Brahman). Atman di dalam tubuh kita disebut dengan jiwatman, yang menyebabkan kita hidup. Atman dengan badan adalah laksana kusir dengan kereta. Kusir adalah Atman yang mengemudikan dan kereta adalah badan. Demikian atman itu menghidupi sarwa pani  (mahluk hidup) di alam semesta ini.Untuk menunjukan, bahwa nafas hidup atau Atman adalah terpenting alam kehidupan manusia, didalam  Brhad Aranyaka Upanisad akan menceritakan tentang sebuah mithe sebagai berikut : Pada suatu hari nafas hidup, mengucapkan, pengelihatan, pendengaran, akal, manah, bertengkar mengenai persoalan siapa diantara mereka yang tertinggi. Mereka menghadap kepada para dewa, dan menanyakan hal itu siapa sesungguhnya diantara mereka yang tertinggi ?

              Atas nasehat Dewa Brahma, mereka satu – persatu meninggalkan tubuh untuk satu tahun lamanya. Ketika alat ucap itu kembali ia bertanya kepada teman – tamannya apakah mereka dapat pada waktu ditinggalkan olehnya? semuanya menjawab bahwa mereka masih hidup. Akhirnya tibalah giliran teman – teman yang lainnya meninggalkan tubuh seperti ; mata, telinga, akal dan manah, akan tetapi ternyata bahwa, sekalipun tubuh berada dalam keadaan tidak sempurna manusia masih dapat hidup, terakhir tibalah saatnya nafas meninggalkan tubuh ketika baru saja berkemas – kemas nafas hendeak pergi, ternyata ia menarik juga semua teman – temannya, sehingga mereka bersama-sama berseru; Tuan (nafas) yang sangat dihormati janganlah pergi sesungguhnya kami tidak biasa hidup tanpa nafas, jika tuan pergi, seluruhnya tidak akan biasa hidup akhirnya nafas menyetujui dengan syarat bahwa dialah yang paling tinggi dan mereka semua menyembah  kepadanya.
            Atman, ia bersembunyi dalam setiap mahluk yang menghadapi semuanya, yang merupakan jiwa semua mahluk, raja dari semua perbuatan pada semua mahluk, saksi yang mengetahui dan tunggal. Demikian atman merupakan percikan – percikan terkecil dari paramatman ( Tuhan ) yang berada di setiap mahluk hidup. Tentang Atman dikatakan bahwa sekalipun ia duduk namun bergerak juga kemana – mana, sekalipun ia berbaring ia pergi kemana – mana ungkapan ini meliputi segala sesustu  dan dia diam didalam tubuh kita.sehingga Atman diselubungi oleh beberapa selubung yaitu dari luar ke dalam; selubung yang terdiri dari makanan, atau tubuh sebagai selubung jasmani (Annamaya Atman), selubung dibawah selubung jasmani yaitu selubung yang di tempat nafas hidup atau prana yaitu selubung nasfani (Paranamaya Atman), selubung yang lebuih mendalam lagi yaitu selubung akal / pikiran (manomaya Atman) lalu terdapat selubung terdiri dari kesadaran (Wijnana maya Atman)
Akhirnya bagian yang terdalam, terdapat atman yang bahagia (Ananada maya Atman), yaitu intisari manusia. Segala selubung tadi dapat bergerak atau berubah dan berkembang. Akan tetapi Atman adalah subyek yang tetap ada dintara segala yang berubah, ialah Aku yang melihat, bukannya yang dilihat, Aku yang tetap diatas dan  dibelakang segala sifat. Ia adalah bebas dari dosa, dari pada umur tua, dari pada maut, lapar dan dahaga, dan lain sebagainya. Dan selanjutnya dikatakan bahwa Atman ini berada dalam keadaan yang bermacam – macam, sebagai umpamanya dalam keadaan bagun (Wiawa), dimana pribadinya sadar akan adanya dunia yang diluarnya, dan menikmati dunia itu. Disini manah dan segala indrianya aktif serta bergantung dari prangsang – prangsang dari luar. Selanjutnya Atman didalam keadaan mimpi (Taijasa) dimana pribadinya menikmati hal – hal yang halus yang di ciptakan sendiri dari bahan – bahan yang didapatkannya pada saat keadaan bangun. indrianya mulai tenang dan dipusatkan ke dalam manah dan Rohnya mengembara dengan bebas tidak di belenggu oleh tubuhnya kemudian berada dalam keadaan tidur nyeyak (susupati), dimana manah dan semua indrianya menjadi tidak aktif sehingga orang menyelami kesadarannya yang tanpa obyek disini orang akan mengatasi segala keinginan dan bebas dari godaan rohnya. Akhirnya Atman dapat berada dalam keadaan kesadaran kesatuan atau kesadaran yang intuitip dimana tidak ada lagi pengetahuan akan obyek – obyek yang diluar maupun yang didalam keadaan yang sebenarnya yang satu berbahagia dan damai.

  Oleh karena keadaan Brahman yang sebenarnya tidak berbeda dengan keadaan Atman yang sebenarnya dan oleh karena itu Atman adalah bagian dari pada Tuhan, bagaikan titik embun yang berasal dari penguapan air laut, karena ada pengaruh dari satu temperatur tertentu. Seperti juga halnya percikan – percikan sinar yang berasal dari matahari, kemudian terpencar menerangi segala pelosok alam semesta ini. Atau dapat diumpamakan Hyang Widhi ( Brahman / Tuhan ) adalah sumber tenaga listrik yang dapat menghidupkan bola lampu besar atau kecil dimana pun ia berada. Bola lampu dapat diumpamakan sebagai tubuhnya setiap mahluk dan aliran listriknya adalah Atman itu sendiri. Maka kesimpulannya yang diambil ialah bahwa Brahman sebagai asas kosmos adalah sama dengan hidup Atman sebagai hidup manusia. Didalam Atman itulah Brahman menjadi immanent, yang tidak terbatas menjadi terbatas. Yang memiliki seluruh dunia, sebagai intisarinya atau akarnya, itulah kenyataan, itulah Atman, itulah kamu (Tattwan Asi). Ditempat lain dikatakan bahwa barang siapa tahu bahwa “ Aku adalah Brahman “ (Aham Brahman Asmi) ialah menjadi segalanya bahkan Dewa – Dewa juga tidak dapat mencegah ia menjadi demikian.
Oleh karena Atman itu merupakan dari Brahman / Hyang Widhi / Tuhan. Maka Atman pada hakekatnya memiliki sifat yang sama dengan sumbernya, yakni Brahman itu sendiri. Atman bersifat sempurna dan kekal abadi tidak mengalami kelahiran dan kematian, bebas dari suka dan duka.

Walagra sata bhagasyas
Satadha kalpitasya ca bhango
Jiwas sa wijneyas
           Sa canantyaya kalpate. (Sweta Swatara Upnisad)
Artinya :
            Atman itu berkeadaan besar seperseratus ujung rambut dibagi setarus, tetepi memiliki kemampuan yang tak terbatas.

            Avyakto ‘ yam achityo ‘ yam
            Avikaryo ‘ yam uchyate
            Tasmad evam viditvai ‘ nam
            Na nusochitum arhasi. (Bhagavad Gita II,25)
Artinya :
            Dia dikatakan tidak termanifestasikan, tidak dapat dipikirkan, tidak berubah – ubah, dan mengetahui halnya demikian engkau hendaknya jangan berduka.
              Yang dimaksud “ Dia “ dan “ Nya “ dalam sloka diatas adalah Atman itu sendiri. Dia mengatasi segala elemen materi, kekal, abadi dan tidak terpikirkan. Oleh karena itu Atman ( Jiwatman ) tidak dapat menjadi subyek atau pun obyek dari pada perubahan – perubahan yang dialami oleh pikiran, hidup dan badah jasmani. Karena semua bentuk – bentuk yang dialami ini bisa berubah, datang dan pergi, tetapi jiwa itu tetap langgeng untuk selamanya. Ada beberapa sifat yang penting antara lain yaitu ; Achodya (tak terlukai oleh senjata), Adahya (tak terbakar oleh api), Akledya (tak terkeringkan oleh angin), Achesya (tak terbasahkan oleh air), Nitya (abadi), Sarwagatah (ada dimana – mana), Sthanu (tak berpindah – pindah), Acala (tak dilahirkan), Achintya (tak terpikirkan), dan Awikara (tak berubah dan sempurna tidak laki – laki atau perempuan)
            Perpaduan Atman dengan badan jasmani, menyebabkan mahluk itu hidup. Atman yang menghidupi badan disebut jiwatman. Pertemuan Atman dengan badan jasmani inimenyebabkan Dia terpengaruh oleh sifat – sifat maya yang menimbulkan Awidya (kegelapan). Jadi manusia lahir dalam keadaan awidya yang menimbulkan ketidak sempurnaannya.Atman itu dapat sempurna, tetapi manusia itu sendiri tidaklah sempurna. Manusia tidak luput dari hukum lahir, hidup dan mati. Walaupun manusia itu mengalami kematian namun Atman tidak akan bisa mati. Hanya badan yang mati dan hancur, sedangkan Atman tetap kekal abadi. Ke tidak kekalan manusia hidup di dunia, dan simak pernyataan di bawah ini yang menyebutkan sebagai berikut :

            Samkalpana sparsana dresti mohair
            Grasambu wrsty atma wiwrddhi janma
            Karmanugani anukramena dehi sthanesu
            Rupany abhi samprapadyate. (Sweta Swetara Upanisad)
Artinya :
            Dengan mempergunakan kemauan, fikiran, perabaan, pengelihatin, dan dengan menghayati hawa – nafsu, Atman berinkarnasi secara berulang – ulang dibeberapa tempat denagn mengambil berbagai tubuh, sesuai dengan hasil karmanya, dan mengalami kedewasaannya, sama seperti bahwa tubuh ini dapat mengalami pertumbuhan, karena memakan, makanan dan meminum, minuman.

            Sthulani suksmani bahuni caiwa
            Rupani dehi swa-gunair warnoti
Kriya- gunair atma-gunais ca tesam
Samyaoga hetur aparo pidrstah. (Sweta Swetara Upanisad)

 Artinya :
            Atman yang berinkarnasi sesuai denagn sifat dan karmanya, memilih sebagai tubuhnya wujud yang kasar atau halus. Dia menjadi tampak berkeadaan berbeda dari satu inkarnasi keinkarnasi berikutnya.

Dan didalam kitab Bhagavad Gita II juga terdapat seloka yang menyatakan tentang atman (ketidak kekalan manusia hidup didunia), selokanya sebagai berikut :

            Vasamsi jirnani yatha vihaya
            Navani grihnati naro ‘ parani
            Tahta sarirani vihaya jirnany
            Anyani samyati navani dehi (Bhagavad Gita II,22)
Artinya :
            Ibarat orang yang meninggalkan pakaian lama dan menggantikannya dengan yang baru, demikian jiwa meninggalkan badan tua dan memasuki jasmani yang baru.

            Jiwatman yang terbelenggu dan berpindah dari satu badan ke badan yang lain. Setiap kelahirannya membawa badan, hidup dan pikiran yang terbentuk dari pada prakerti menurut evolusinya dimasa yang lalu dan dibutuhkannya dimasa yang akan datang. Apabila badan jasmani telah menjadi tua dan hancur, maka alam pikiran akan menjdi pembalut jiwa merupakan kendaraan baginya untuk berpindah – pindah dari satu badan kebadan yang lainnya yang disebut  dengan “ Reinkarnasi “ atau “ Punarbhawa “ yang sesuai dengan karmaphalanya (hasil perbuatan di dunia). Karena itu Atman tidak akan selalu dapat kembali ke asalnya yaitu paramatman. Orang yamg selalu berbuat baik didunia akan menuju sorga dan yang berbuat buruk akan jatuh ke neraka. Di neraka jiwatman itu mendapat siksaan sesuai dengan hasil perbuatannya di dunia. Karena itulah penjelman terus berlanjut sampai jiwatman sadar akan hakikat dirinya sebagai Atman, terlepas dari pengaruh awidya dan mencapai moksa yaitu kebahagiaan dan kedamaian yang abadi serta kembali dan bersatu kepada asalnya.
            Oleh karena itu Brahman adalah Atman, maka Atman bukan hanya ada didalam manusia, melainkan didalam segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, seperti halnya dengam Brahman. Atman juga berada dalam matahari, bulan, bintang – bintang dan sebagainya . Tiada sesuatu pun yang berada diluar Brahman dan Atman. Hanya Brahman dan Atman lah yang nyata dan diluarnya tiada sesuatu pun yang nyata. Dunia yang nampak disatu pihak sebagai nama dan bentuk semata – mata, sehingga hanya mewujudkan suatu hayalan (Maya) saja akan tetapi dilain pihak dunia yang tampak ini juga dipandang sebagai keluar dari Brahman , sebagai memiliki kenyataan juga. Namun di pertahankan juga bahwa dunia bukanlah sebagian dari Brahman. Dan Atman  adalah Brahman yang Immanent, Brahman yang menjadi tebatas, keterbatasan ini disebabkan karena selubung – selubung yang membelenggunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar